Kamis, 29 November 2012

CERPEN


SENANDUNG TERAKHIR
UNTUK CAKKA
Kulangkahkan kakiku menyusuri Jl. Slamet Riyadi. Sambil mulutku bergumam, kusenandungkan lagu favoritku dari JKT48. Aku terus melangkah hingga ku tak sadari bahuku ditepuk dari belakang “Hai, Bil!”. Saat ku menoleh, seraut wajah manis yang selalu ku bayangkan. “Hai, Kka!”, aku gugup sambil tersenyum kecil. Cakka Nuraga adalah anak SMA Harapan yang sejak SMP aku menaruh hati padanya, tapi ku sembunyikan semua itu. Kutakut cintaku bertepuk sebelah tangan. “Mau kemana, Bil?” Cakkapun memecah keheningan. “Mau jalan-jalan aja Kka!” , “Sama, barengan yuk!” kata Kka, panggilan akrabnya. “Yuk!” jawabku santai, kami jalan-jalan bersama hingga tak terasa waktupun mulai senja.
Seminggu kemudian kuterima SMS dari Cakka, dan dia mengajakku bertemu di Taman Sriwedari, dengan senangnya kuterima ajakan Cakka itu. Setelah bertemu, kamipun berbincang-bincang. Bagaikan kilat, kecupan manis mendarat di pipi, sambil bisikan kata “Nabilah, I love you!”. Bagai petir di siang hari, jantungku seperti berhenti berdetak. Ku terdiam begitu lama, dan Cakka menunggu dengan sabar di sisiku. Setelah lama terdiam, ku tatap wajahnya yang bersahaja, akupun menanyakan kembali “Apa Kka?” , Ia pun mengulang kata-kata itu kembali. 11 November 2012 , hari dimana terikatnya jalinan kasihku dengan Cakka dimulai.
Setelah banyak yang mendengar, teman-temanku banyak yang mengucapka “Nabilah, selamat yaa!” dan ku hanya tersipu malu mendengarnya. Tiga bulan telah kulewati bersama Cakka, setiap Sabtu kami pasti pulang bersama walau hanya untuk jalan-jalan. Kamipun memakan es krim bersama di kafe, dibumbui musik, suasanapun semakin mesra. Cakka menatapku lama dan berkata lirih “Nabilah, aku hanya ingin kita saling percaya!” , ku hanya terdiam, ketika ku mulai mengangkat muka, lagi! Ciuman manis dilayangkan Cakka. Dengan kagetnya, aku hanya bisa menjawab “Iya Kka,”. Hari silih berganti, dan kamipun mulai belajar tuk mengerti.
Siswa baru pindah ke sekolahku dari sebuah SMA di Yogyakarta. Gadis manis, rambut panjang terurai, saat ia memperkenalkan diri, Ashilla namanya, kudengar ia adalah mantan kekasih Cakka. Ia sekelas denganku dan Cakka. Sedih dan takut hantuiku, walau kucoba sembunyikan semua. Sebulan telah berlalu, kudapati Cakka dan Ashilla di bioskop bersama. Kucoba sembunyikan sedih, rasa takut menyertai tanyaku ke Cakka. Minggu lalu Cakka menelfon untuk mengajak bertemu.

Kami bertemu di kafe, Cakka telah duduk terdiam disana, hingga aku datang. “Ayo duduk!” katanya lembut. “Sebelumnya aku minta maaf, mungkin hubungan kita sampai disini saja!”, “Ada apa? Apa aku salah?” , “Maaf” hanya itu kata terakhir Cakka padaku. Seminggu kemudian ku ketahui bila Cakka telah kembali dengan Ashilla.
Kutekuk lutut sampai ke dagu, pedihnya hati tak terelakkan lagi. Ku telusuri dan tetap berjalan di Jalan Malioboro di Minggu pagi. Ku tenangkan hati, ku dengarkan lantunan lagu dari pengamen jalanan di Malioboro. Senandung terakhir yang ku dengar bersama jatuhnya air mataku “Saat cinta itu datang ku sambut sepenuh hati, sekarang, saat ia pergi, ku akan kenangnya di dalam hati. Kupahami bila Cakka tak harus kumiliki. Cintaku hanya akan berarti bila kami telah memahami arti dari berbagi, mengerti, dan peduli. Mungkin bila berkorban adalah jalan keluar, mengapa hati ini masih terasa sakit? Cakka, kamu adalah kenangan terindah maupun tersakit untukku” terpikir itu bersama tapak langkahku.

T A M A T

Jumat, 03 Agustus 2012

Sedikit Belajar Bahasa Korea (งˆヮˆ)ง


안녕히 주무세요 Selamat malam = annyeonghi jumuseyo
안녕하세요 Selamat siang = annyeonghaseyo
좋은 아침 Selamat pagi = joh-eun achim
안녕히 주무세요, 달콤한 Selamat tidur, mimpi indah = annyeonghi jumuseyo, dalkomhan kkum
Ya = ye
아니 Tidak = anni
? Apa? = Wae
언제 Kapan = Eun je
이유 Mengapa = iyu
사랑해 Aku cinta kamu/kalian = nan neul salanghae
 저는 당신이 그리워요 Aku rindu kalian = jeoneun dangsin-i geuliwoyo

Kamis, 02 Agustus 2012

Jenis Waqaf

Terdapat empat jenis waqaf yaitu:
  • ﺗﺂﻡّ (taamm) - waqaf sempurna - yaitu mewaqafkan atau memberhentikan pada suatu bacaan yang dibaca secara sempurna, tidak memutuskan di tengah-tengah ayat atau bacaan, dan tidak memengaruhi arti dan makna dari bacaan karena tidak memiliki kaitan dengan bacaan atau ayat yang sebelumnya maupun yang sesudahnya;
  • ﻛﺎﻒ (kaaf) - waqaf memadai - yaitu mewaqafkan atau memberhentikan pada suatu bacaan secara sempurna, tidak memutuskan di tengah-tengah ayat atau bacaan, namun ayat tersebut masih berkaitan makna dan arti dari ayat sesudahnya;
  • ﺣﺴﻦ (Hasan) - waqaf baik - yaitu mewaqafkan bacaan atau ayat tanpa memengaruhi makna atau arti, namun bacaan tersebut masih berkaitan dengan bacaan sesudahnya;
  • ﻗﺒﻴﺢ (Qabiih) - waqaf buruk - yaitu mewaqafkan atau memberhentikan bacaan secara tidak sempurna atau memberhentikan bacaan di tengah-tengah ayat, wakaf ini harus dihindari karena bacaan yang diwaqafkan masih berkaitan lafaz dan maknanya dengan bacaan yang lain.

Sinopsis Novel Hamka di Bawah Lindungan Ka'bah


Hamid adalah seorang anak yatim dan miskin. Dia kemudian diangkat oleh keluarga Haji Jafar yang kaya-raya. Perhatian Haji Jafar dan istrinya, Asiah, terhadap Hamid sangat baik. Hamid dianggap sebagai anak mereka sendiri, Mereka sangat menyayanginya sebab Hamid sangat rajin, sopan, berbudi, serta taat beragama. Itulah sebabnya, Hamid juga disekolahkan bersama-sama dengan Zainab, anak kandung Haji Jafar di sekolah rendah
 Hamid sangat menyayangi Zainab. Begitu pula dengan Zainab. Mereka sering pergi sekolah bersama-sama, bermain bersama-sama di sekolah ataupun pulang sekolah. Ketika keduanya beranjak remaja, dalam hati masing-masing mulai tumbuh perasaan lain. Suatu perasaan yang selama ini belum pernah mereka rasakan. Hamid merasakan bahwa rasa kasih sayang yang muncul terhadap Zainab melebihi rasa sayang kepada adik, seperti yang selama ini dia rasakan. Zainab juga ternyata mempuanyai perasaan yang sama seperti perasaan Hamid. Perasaan tersebut hanya mereka pendam di dalam lubuk hati yang paling dalam. Hamid tidak berani mengutarakan isi hatinya kepada Zainab sebab dia menyadari bahwa di antara mereka terdapat jurang pemisah yang sangat dalam. Zainab merupakan anak orang terkaya dan terpandang, sedangkan dia hanyalah berasal dari keluarga biasa dan miskin. Jadi, sangat tidak mungkin bagi dirinya untuk memiliki Zainab. Itulah sebabnya, rasa cintanya yang dalam terhadap Zainab hanya dipendamnya saja.
Jurang pemisah itu semakin hari semakin dirasakan Hamid. Dalam waktu bersamaan, Hamid mengalami peristiwa yang sangat menyayat hatinya. Peristiwa pertama adalah meninggalnya Haji Jafar, ayah angkatnya yang sangat berjasa menolong hidupnya selama ini. Tidak lama kemudian, ibu kandungnya pun meninggal dunia. Betapa pilu hatinya ditinggalkan oleh kedua orang yang sangat dicintainya itu. Kini dia yatim piatu yang miskin. Sejak kematian ayah angkatnya, Hamid merasa tidak bebas menemui Zainab karena Zainab dipingit oleh mamaknya.
Puncak kepedihan hatinya ketika mamaknya, Asiah, mengatakan kepadanya bahwa Zainab akan dijodohkan dengan pemuda lain, yang masih famili dekat dengan almarhum suaminya. Bahkan, Mak Asiah meminta Hamid untuk membujuk Zainab agar mau menerima pemuda pilihannya.
Dengan berat hati, Hamid menuruti kehendak Mamak Asiah. Zainab sangat sedih menerima kenyataan tersebut. Dalam hatinya, ia menolak kehendak mamaknya. Karena tidak sanggup menanggung beban hatinya, Hamid memutuskan untuk pergi meninggalkan kampungnya. Dia meninggalkan Zainab dan dengan diam-diam pergi ke Medan. Sesampainya di Medan, dia menulis surat kepada Zainab. Dalam suratnya, dia mencurahkan isi hatinya kepada Zainab. Menerima surat itu, Zainab sangat terpukul dan sedih. Dari Medan, Hamid melanjutkan perjalanan menuju ke Singapura. Kemudian, dia pergi ke tanah suci Mekah.
 Selama ditinggalkan oleh Hamid, hati Zainab menjadi sangat tersiksa. Dia sering sakit-sakitan, semangat hidupnya terasa berkurang menahan rasa rindunya yang mendalam pada Hamid. Begitu pula dengan Hamid, dia selalu gelisah karena menahan beban rindunya pada Zainab. Untuk membunuh kerinduannya, dia bekerja pada sebuah penginapan milik seorang Syekh. Sambil bekerja, dia terus memperdalam ilmu agamanya dengan tekun.
 Setahun sudah Hamid berada di Mekah. Ketika musim haji, banyak tamu menginap di tempat dia bekerja. Di antara para tamu yang hendak menunaikan ibadah haji, dia melihat Saleh, teman sekampungnya. Betapa gembira hati Hamid bertemu dengannya. Selain sebagai teman sepermainannya masa kecil, istri Saleh Rosana adalah teman dekat Zainab. Dari Saleh, dia mendapat banyak berita tentang kampungnya termasuk keadaan Zainab.
 Dari penuturan Saleh, Hamid mengetahui bahwa Zainab juga mencintainya. Sejak kepergian Hamid, Zainab sering sakit-sakitan. Dia menderita batin yang begitu mendalam, Karena suatu sebab, dia tidak jadi menikah dengan pemuda pilihan mamaknya, sedangkan orang yang paling dicintainya, yaitu Hamid telah pergi entah kemana. Dia selalu menunggu kedatangan Hamid dengan Mendengar penuturan Saleh tersebut, perasaan Hamid bercampur antara perasaan sedih dan gembira. Sedih sebab Zainab menderita fisik dan batin. Gembira karena Zainab mencintainya juga. Artinya cintanya tak bertepuk sebelah tangan. Karena tidak jadi menikah dengan pemuda pilihan mamaknya, besar kemungkinan keinginannya untuk bersanding dengan Zainab akan kesampaian. Hamid berencana kembali ke kampung halaman setelah menunaikan ibadah haji terlebih dahulu.
 Saleh langsung mengirim surat kepada Rosna, istrinya. Dalam suratnya, dia menceritakan pertemuannya dengan Hamid. Rosna memberikan surat dari Saleh itu kepada Zainab. Betapa gembiranya hati Zainab mendengar kabar tersebut. Hamid, orang yang paling dicintainya, yang selama ini tidak diketahui keberadaannya, telah dia temukan. Hatinya lega dan bahagia. Semangat hidupnya bangkit kembali dan dia merasa tidak tahan lagi untuk bertemu kembali dengan kekasih hatinya itu. Ia pun menulis surat balasan kepada Hamid. Hamid menerimanya dengan suka cita. Semangatnya untuk menyelesaikan ibadah haji semakin menggelora agar segera bertemu Zainab.
 Walau dalam keadaan sakit parah, Hamid tetap berwukuf. Namun setelah wukuf di Padang Arafah yang sangat panas, kondisinya semakin melemah. Nafsu makannya menurun dan suhu badannya pun tinggi.
 Melihat keadaan sahabatnya, Saleh tidak sanggup memberitahukan kabar tentang Zainab yang baru saja ia terima dari Rosna. Namun, Hamid mempunyai firasat tentang hal itu. Atas desakan Hamid, Saleh memberitahukan bahwa Zainab telah meninggal dunia. Hati Hamid terpukul mendengar kenyataan tersebut. Hanya dengan keimanan yang kuat, dia masih mampu bertahan hidup. Keteguhan Hamid pada sikap menyempurnakan ibadah haji di Baitullah telah menyebabkan Hamid kehilangan kekasihnya. Zainab meninggal karena sakit-sakitan menahan rindu dalam pingitan.
 Keesokan harinya, Hamid tetap memaksakan diri untuk berangkat ke Mina. Namun, dalam perjalanannya, dia jatuh lunglai, sehingga Saleh mengupah orang Baduy untuk memapah Hamid. Setelah acara di Mina, mereka kemudian menuju Masjidil Haram. Setelah mengelilingi Ka'bah, Hamid minta diberhentikan di Kiswah. Sambil menjulurkan tangannya memegang kain Kiswah penutup Ka'bah itu, Hamid beberapa kali bermunajat: "Ya rabbi, ya Tuhanku Yang Maha Pengasih dan Penyayang." Suaranya semakin melemah dan akhirnya berhenti untuk selama-lamanya. Hamid telah meninggalkan dunia yang fana ini di hadapan Kabah, menyusul sang kekasih penuh harap.



Sangat Mengharukan :(

My Social Network Access :)

Don't forget to add my Facebook Account https://www.facebook.com/gigih.mukti.leksono?ref=tn_tnmn
And Let's follow my Twitter Account
https://twitter.com/Gigih_Mukti98

Thank's :)